history-of-macedonia.com – Sejarah orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi mungkin terdengar seperti bagian yang jauh dari perjalanan bangsa. Namun, sebuah kunjungan ke bekas Kamp Konsentrasi Sachsenhausen di Jerman justru dapat membuka hubungan yang tidak banyak dibahas antara Indonesia, gerakan kemerdekaan, dan Perang Dunia II di Eropa.
Di tempat yang kini berfungsi sebagai memorial tersebut, nama Parlindoengan Loebis menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat sejarah dari sudut berbeda. Ia merupakan dokter sekaligus aktivis Perhimpunan Indonesia yang pernah mengalami penahanan Nazi dan menjalani hidup sebagai tahanan di sejumlah kamp di Belanda serta Jerman.
Kisah itu menunjukkan bahwa sejarah Indonesia pada abad ke-20 tidak hanya berlangsung di Batavia, Yogyakarta, Surabaya, atau kota-kota lain di Nusantara. Sebagian dari perjuangan dan penderitaan orang Indonesia juga terjadi ribuan kilometer dari tanah air.
Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi dan Sachsenhausen
Sachsenhausen berdiri di Oranienburg, sebelah utara Berlin. Rezim Nazi membangun kamp tersebut pada musim panas 1936 dan merancangnya sebagai salah satu kamp konsentrasi penting dalam sistem penahanan SS.
Lebih dari 200.000 orang pernah ditahan di Sachsenhausen sepanjang 1936 hingga 1945. Mereka berasal dari berbagai kelompok, mulai dari lawan politik Nazi, orang Yahudi, Sinti dan Roma, tahanan perang, hingga orang-orang dari wilayah Eropa yang diduduki Jerman.
Karena itu, Sachsenhausen bukan sekadar bangunan tua yang tersisa dari perang. Tempat tersebut menjadi saksi bagaimana sebuah pemerintahan totaliter menggunakan penjara, kerja paksa, diskriminasi, dan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.
Bagi pengunjung Indonesia, tempat ini memiliki lapisan sejarah tambahan. Salah satu orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi yang diketahui pernah berada dalam sistem tersebut adalah Parlindoengan Loebis.
Siapa Parlindoengan Loebis?
Parlindoengan Loebis lahir pada 1910 dan menempuh pendidikan kedokteran di Belanda. Selama berada di Eropa, ia aktif dalam lingkungan mahasiswa Indonesia dan pernah memimpin Perhimpunan Indonesia atau PI.
Organisasi tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah pergerakan nasional. Perhimpunan Indonesia mendorong gagasan kemerdekaan dan mempertemukan mahasiswa Indonesia dengan berbagai pemikiran politik yang berkembang di Eropa.
Ketika Nazi Jerman menduduki Belanda pada Mei 1940, kehidupan para mahasiswa serta aktivis Indonesia di sana berubah drastis. Sejumlah anggota Perhimpunan Indonesia terlibat atau memiliki hubungan dengan aktivitas anti-fasis.
Loebis akhirnya ditangkap pada Juni 1941 karena keterlibatannya dengan Perhimpunan Indonesia dan dugaan hubungan dengan aktivitas politik yang ditentang penguasa pendudukan. Catatan sejarah Leiden menyebut perjalanan penahanannya melewati Schoorl, Amersfoort, Buchenwald hingga Sachsenhausen.
Sejak saat itu, kehidupannya berubah dari seorang dokter menjadi tahanan politik dalam sistem kamp Nazi.
Dari Belanda hingga Kamp Konsentrasi Jerman
Penangkapan Parlindoengan Loebis memperlihatkan bahwa pendudukan Nazi di Belanda ikut menyeret warga Indonesia yang saat itu tinggal di Eropa.
Loebis tidak langsung dibawa menuju Sachsenhausen. Ia terlebih dahulu menjalani penahanan di beberapa lokasi, termasuk Kamp Schoorl dan Amersfoort di Belanda. Setelah itu, Nazi mengirimnya ke Buchenwald sebelum akhirnya memindahkannya ke Sachsenhausen.
Perpustakaan Komnas HAM mencatat autobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi, sebagai dokumentasi mengenai kehidupannya selama ditahan di Schoorl, Amersfoort, Buchenwald, dan Sachsenhausen hingga berakhirnya kekuasaan Nazi.
Pengalaman tersebut membuat kisah orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi memiliki sumber langsung dari seseorang yang benar-benar mengalami sistem penahanan itu.
Selain menjadi catatan pribadi, perjalanan Loebis membantu memperluas pemahaman tentang posisi orang Indonesia di Eropa menjelang kemerdekaan.
Sachsenhausen Bukan Sekadar Kamp Penahanan
Pada masa kekuasaan Nazi, Sachsenhausen memiliki fungsi yang luas. Tahanan dipaksa bekerja di berbagai fasilitas milik SS dan industri yang mendukung ekonomi perang Jerman.
Kondisi kehidupan di dalam kamp sangat berat. Kelaparan, penyakit, kerja paksa, hukuman, serta pembunuhan menjadi bagian dari sistem yang dihadapi para tahanan. Sejumlah eksperimen medis juga dilakukan terhadap tahanan.
Pada 1944, sekitar 90 persen tahanan Sachsenhausen merupakan warga asing. Situasi tersebut menggambarkan bagaimana perang telah mengubah sebuah kamp di dekat Berlin menjadi bagian dari jaringan penindasan lintas negara.
Loebis kemudian mendapat tugas sebagai dokter. Latar belakang kedokterannya membuat posisi tersebut berbeda dibandingkan banyak tahanan yang menjalani pekerjaan fisik sangat berat.
Namun, status itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia tetap hidup dalam sebuah sistem yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan tahanan.
Menjadi Dokter di Tengah Sistem Kamp Nazi
Kemampuan medis Parlindoengan Loebis ternyata ikut memengaruhi peluangnya untuk bertahan hidup.
Catatan mengenai kehidupannya menyebut bahwa ia mendapat tugas sebagai dokter ketika berada dalam kompleks yang berhubungan dengan Sachsenhausen. Posisi tersebut memberinya kondisi kerja yang relatif berbeda dibandingkan tahanan yang menjalani kerja paksa berat.
Namun, pengalaman itu juga menempatkannya sangat dekat dengan penderitaan tahanan lain.
Ia harus berhadapan dengan orang sakit, kekurangan makanan, kondisi fisik yang memburuk, serta sistem penahanan yang tidak menghargai kehidupan manusia.
Kisah tersebut membuat perjalanan orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi bukan hanya cerita tentang seseorang yang selamat. Di dalamnya terdapat gambaran tentang bagaimana ilmu, keberanian, dan kemampuan bertahan menjadi sangat berarti ketika seseorang berada dalam kondisi ekstrem.
Perhimpunan Indonesia dan Perlawanan terhadap Fasisme
Kehadiran Parlindoengan Loebis di Eropa juga tidak dapat dipisahkan dari aktivitas Perhimpunan Indonesia.
Organisasi mahasiswa tersebut sebelumnya melahirkan atau melibatkan sejumlah tokoh yang kemudian memiliki peran penting dalam sejarah nasional. Ketika Belanda berada di bawah pendudukan Jerman, sebagian mahasiswa Indonesia ikut bergerak melawan Nazi melalui jaringan bawah tanah.
Catatan sejarah menyebut aparat keamanan Nazi melakukan pencarian terhadap sejumlah tokoh Perhimpunan Indonesia pada 1941. Parlindoengan Loebis dan R.M. Sidartawan termasuk mereka yang tertangkap.
Nasib mereka kemudian berbeda.
Loebis berhasil melewati berbagai kamp dan akhirnya selamat. Sementara itu, Sidartawan meninggal ketika berada dalam sistem kamp konsentrasi Nazi.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara sejarah Indonesia dan Perang Dunia II di Eropa lebih kompleks daripada yang sering muncul dalam pelajaran sekolah.
Sejarah Indonesia Ternyata Juga Ada di Eropa
Pelajaran sejarah Indonesia biasanya berpusat pada kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, proklamasi, serta revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Kerangka tersebut memang penting. Namun, sejarah bangsa sebenarnya memiliki jaringan yang jauh lebih luas.
Mahasiswa Indonesia telah beraktivitas di Belanda sebelum Perang Dunia II. Mereka membawa gagasan nasionalisme, berorganisasi, membangun jaringan internasional, dan kemudian menghadapi perubahan politik Eropa ketika Nazi menguasai Belanda.
Karena itu, membicarakan orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi membantu kita melihat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berlangsung dalam ruang yang terisolasi.
Peristiwa di Eropa, perang global, fasisme, kolonialisme, dan nasionalisme Indonesia saling beririsan pada masa tersebut.
Akhir Kekuasaan Nazi dan Pembebasan Sachsenhausen
Memasuki 1945, posisi Jerman semakin terdesak. Pasukan Sekutu bergerak dari barat, sedangkan pasukan Soviet maju dari timur.
Pada April 1945, SS mulai mengevakuasi puluhan ribu tahanan Sachsenhausen dengan berjalan kaki. Ribuan tahanan meninggal selama proses yang kemudian dikenal sebagai death march atau mars kematian.
Pasukan Soviet dan Polandia mencapai Sachsenhausen pada 22 April 1945 dan menemukan sekitar 3.000 tahanan yang sakit bersama sejumlah tenaga medis yang tertinggal di kamp.
Parlindoengan Loebis pada akhirnya berhasil selamat dari perang. Setelah melewati masa pemulihan dan kembali ke Belanda, ia kemudian pulang ke Indonesia.
Ia menjalani kehidupan sebagai dokter dan meninggal pada 1994. Pengalamannya selama perang kemudian terdokumentasi melalui autobiografi yang menjadi sumber penting untuk memahami pengalaman orang Indonesia di bawah kekuasaan Nazi.
Dari Kamp Konsentrasi Menjadi Tempat Belajar Sejarah
Sachsenhausen saat ini tidak lagi berfungsi sebagai tempat penahanan. Kawasan tersebut menjadi Sachsenhausen Memorial and Museum.
Pengelola memorial mempertahankan bangunan, sisa struktur kamp, dokumen, serta berbagai pameran untuk membantu pengunjung memahami sejarah yang pernah berlangsung di sana.
Sejak 1993, museum berada di bawah Brandenburg Memorials Foundation. Saat ini terdapat sejumlah pameran permanen yang mengangkat sejarah kamp Nazi, tahanan, pelaku, hingga penggunaan kompleks tersebut setelah perang.
Pendekatan tersebut membuat pengunjung tidak hanya melihat benda bersejarah. Mereka dapat memahami hubungan antara sebuah lokasi, keputusan politik, ideologi, dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Bagi orang Indonesia, kisah Parlindoengan Loebis membuat pengalaman mengunjungi Sachsenhausen terasa lebih dekat.
Mengapa Kisah Parlindoengan Loebis Penting?
Kisah orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi penting karena memperlihatkan setidaknya beberapa sisi sejarah yang sering terpisah dalam pembahasan.
Pertama, sejarah Indonesia memiliki hubungan langsung dengan perkembangan politik internasional. Pergerakan mahasiswa Indonesia di Eropa menunjukkan bahwa gagasan kemerdekaan tumbuh melalui interaksi global.
Kedua, pengalaman Loebis memperlihatkan konsekuensi nyata dari pemerintahan totaliter. Ketika negara mulai menganggap kelompok tertentu sebagai ancaman yang boleh kehilangan haknya, kekerasan dapat berkembang menjadi sistem.
Ketiga, dokumentasi pengalaman korban sangat penting. Tanpa memoar, arsip, museum, dan penelitian sejarah, banyak kisah individual dapat hilang dalam angka korban yang sangat besar.
Selain itu, pengalaman Parlindoengan juga menjadi pengingat bahwa sejarah nasional tidak berhenti pada batas wilayah negara.
Belajar Sejarah dari Tempat Kejadiannya
Buku sejarah memberikan konteks, tanggal, nama, serta penjelasan. Namun, tempat bersejarah memberikan pengalaman yang berbeda.
Berjalan melewati area bekas barak, melihat sisa fasilitas kamp, atau membaca identitas para tahanan dapat membuat peristiwa puluhan tahun lalu terasa jauh lebih nyata.
Karena itu, memorial seperti Sachsenhausen memainkan peran penting dalam pendidikan sejarah.
Pengelola Sachsenhausen sendiri menempatkan kawasan tersebut sebagai tempat mengenang korban sekaligus pusat pendidikan sejarah dan politik.
Cara ini juga membantu generasi muda memahami bahwa sejarah bukan sekadar materi ujian. Setiap keputusan politik pada masa lalu memiliki konsekuensi terhadap manusia yang benar-benar hidup, memiliki keluarga, profesi, harapan, dan masa depan.
Kesimpulan
Kisah orang Indonesia di kamp konsentrasi Nazi membawa kita pada bagian sejarah yang jarang muncul dalam percakapan sehari-hari. Parlindoengan Loebis menjadi bukti bahwa perjalanan bangsa Indonesia juga bersinggungan langsung dengan salah satu periode paling kelam dalam sejarah Eropa.
Dari Perhimpunan Indonesia hingga penangkapan oleh Nazi, dari kamp di Belanda hingga Buchenwald dan Sachsenhausen, perjalanan hidupnya memperlihatkan hubungan antara nasionalisme Indonesia, perlawanan terhadap fasisme, dan Perang Dunia II.
Sachsenhausen kini menjadi memorial, tetapi cerita di balik tempat tersebut tetap relevan.
Mempelajari jejak Parlindoengan Loebis bukan hanya berarti mengenang masa lalu. Kisahnya juga mengingatkan bahwa kebebasan, kemanusiaan, hak politik, serta keberanian melawan penindasan tidak pernah boleh dianggap sebagai sesuatu yang otomatis bertahan selamanya.
Karena itu, semakin banyak lapisan sejarah seperti ini dikenali, semakin lengkap pula cara kita memahami perjalanan bangsa Indonesia.
